Sabtu, Januari 24, 2009

Keistimewaan Al-Qur'an

Al-Qur'an sebagai landasan hidup manusia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab yang lain.
Beberapa keistimewaan tersebut antara lain:

1. Keistimewaan Tilawah (membaca)

Al-Qur'an adalah sebuah kitab yang harus dibaca, bahkan sangat dianjurkan untuk dijadikan sebagai bacaan harian. Alloh SWT menilainya sebagai ibadah bagi siapapun yang membacanya. Pahala yang Alloh berikan tidak dihitung per ayat atau per kata, melainkan per huruf, sebagaimana penjelasan Rosululloh saw:
"Saya tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif adalah satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf."
(HR. Tarmidzi)

2. Keistimewaan Tadabbur (merenungkan)

Al-Qur'an mampu menjadi ruh (penggerak) bagi kemajuan kehidupan manusia manakal selalu dibaca dan ditadabburkan makna yang terkandung dalam setiap ayat-ayatnya.

Alloh SWT berfirman:
"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu sebuah ruh (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Alkitab itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu? Tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya Kami benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus".
[QS Asy-Syuro (42) :52]

"Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburkan ayat-ayat-Nya dan supaya menjadi peringatan bagi orang-orang yang berakal".
[QS Shod (38) :29]

3. Keistimewaan Hifzh (menghafal)

Al-Qur'an selain dibaca dan direnungkan juga perlu untuk dihafal. Dipindahkan dari tulisan ke dalam dada, karena hal ini merupakan ciri khas orang-orang yang diberi ilmu, juga sebagai tolok ukur keimanan dalam hati seseorang.

Aloh SWT berfirman:
"Sebenarnya Al-Qur;an itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada-dada orang yang diberi ilmu, dan tidaklah mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim".
[QS 'Ankabut (29) :49]

Rosululloh saw bersabda:
"Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak terdapat sebagian ayat dari pada Al-Qur'an, bagaikan rumah yang tidak berpenghuni".
(HR. Tarmidzi)

Pada hakikatnya tilawah bukanlah hal yang sederhana, namun dalam bertilawah seorang qori' (pembaca) dituntut untuk menjaga keaslian (asholah) bacaan Al-Qur'an seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui Jibril. 
Alloh SWT berfirman:
"Apabila Kami telah selesai membacakannya, makaikutilah bacaannya itu".
[QS Qiyamah (75) :18]

Karena itu Rosul pun menunjuk dan memberi kepercayaan kepada beberapa orang sahabat untuk mengajarkannya, di antara mereka adalah Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka'ab dan Salim Maula Abi Hudzaifah. 
Para sahabat kemudian mengajarkan kepada para tabi'in dan demikianlah seterusnya Al-Qur'an diajarkan secara turun temurun dalam keadaan asli tanpa terkurangi huruf-hurufnya, kalimat-kalimatnya, bahwan sampai teknis membacanya. Untuk menjaga keaslian Al-Qur'an, ulama menjaga sana Al-Qur'an (runtutan para pengajar Al-Qur'an sejak zaman Rosul hingga sekarang).
Maka tidak heran kalau Imam Al-Jazari mewajibkan kepada setiap muslim untuk membaca dengan tajwid, karena hal ini merupakan penjagaan terhadap keaslian Al-Qur'an.
Beliau mengatakan dalam manjzumah Al-Jazariyah:
"Membaca Al-Qur'an dengan tajwid hukumnya wajib, barang siapa yang tidak membacanya dengan tajwid maka berdosa, karena dengan tajwidlah Alloh menurunkan Al-Qur'an dan demikianlah Al-Qur'an sampai kepada kita dari-Nya."

Karena itulah, metode yang asasi dan asli dalam mempelajari Al-Qur'an adalah dengan metode Talaqqi yaitu  mempelajari Al-Qur'an melalui seorang guru secara langsung atau berhadap-hadapan, dimulai dari surat Al-Fatihah sampai An-Naas.

Mengingat terbatasnya jumlah orang-orang yang menguasai Al-Qur'an terutama dalam hal tilawah, maka ulama ahli qiro'ati meletakkan kaidah-kaidah cara membaca yang baik dan benar yang disebut dengan tajwid.

(diambil dari Pedoman Dauroh Al-Qur'an, Abdul Aziz Abdur Rauf, Al-Hafizh, Lc.)

0 komentar: